My Melody Crying

Minggu, 13 Desember 2015

Tari Thengul

| | 0 komentar

Tari Thengul adalah tarian tradisional yang terinspirasi dari Wayang Thengul dari Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Tarian ini biasanya dipentaskan oleh penari secara berkelompok dengan gerakan, ekspresi dan kostum yang menyerupai Wayang Thengul. Tari Thengul ini merupakan tarian kreasi yang diciptakan selain untuk seni, tetapi juga sebagai wujud apresiasi dan upaya untuk mengangkat kembali kesenian Wayang Thengul yang hampir tenggelam seiring dengan perkembangan jaman.



Menurut sumber sejarah yang ada, Tari Thengul ini diciptakan pada tahun 1991-an oleh Joko Santoso dan Ibnu Sutawa. Awalnya mereka diminta oleh Dinas P dan K Kabupaten Bojonegoro untuk menciptakan suatu tarian kreasi baru yang akan ditampilkan di acara pekan budaya provinsi Jawa Timur. Setelah jadi dan di tampilkan pada acara tersebut, ternyata mendapat sambutan yang baik dengan memenangkan kategori penampilan terbaik. Dari situlah kemudian Tari Thengul banyak dikenal oleh masyarakat luas dan menjadi salah satu tarian tradisional di Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur.

Tari Thengul ini biasanya ditampilkan oleh tujuh orang penari putri dengan kostum dan tata rias muka putih seperti boneka. Penari tersebut menari layaknya Wayang Thengul dengan gerakan yang kaku dan ekspresi yang terlihat lucu sehingga memunculkan kesan humor dan menghibur dalam setiap pertunjukannya. Gerakan dan ekspresi itulah yang menjadi salah satu ciri khas dari Tari Thengul ini.

Dalam pertunjukannya diawali dengan buka gender dan dilanjutkan dengan slantem bersama oklik. Kemudian  penari keluar dengan jalan pinokio dan dilanjutkan dengan buka cluluk, jogedan, playon, guyonan dan kemudian di tutup dengan kayon. Dalam pertunjukan Tari Thengul ini juga diiringi berbagai alat music tradisional seperti oklik, ithik – ithik, biola dan gamelan laras slendro. Selain musik pengiring, Tari Thengul ini juga diiringi dengan tembang dan senggakan.


Untuk kostum dan tata rias yang digunakan pada Tari Thengul ini, penari layaknya seperti karakter Wayang Thengul. Wajah penari dirias dengan warna putih dengan garis hitam pada rambut, alis dan mata. Untuk busana yang di gunakan, pada bagian atas menggunakan busana seperti kemben dan pada bagian bawah menggunakan kain panjang bercorak bledak. Pada bagian kepala menggunakan cundhuk berbentuk seperti Wayang thengul.

Dalam perkembangannya, Tari Thengul ini masih tetap dipelajari dan dilestarikan keberadaanya. Selain masuk dalam ranah pariwisata, tarian ini juga dimasukan ke dalam ranah pendidikan sebagai upaya memperkenalkan kepada generasi muda agar proses regenerasi tetap berjalan. Selain itu Tari Thengul ini juga sering ditampilkan di berbagai acara festival budaya yang diadakan baik di daerah maupun luar daerah. Tidak hanya sampai disitu, tarian ini juga dijadikan tarian selamat datang bagi tamu besar yang datang ke Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Hal ini tentunya di lakukan sebagai upaya untuk melestarikan dan memperkenalkan kepada masyarakat luas tentang Tari Thengul ini.

Referensi :
Read more...

Rangkaian Inverting dan Non-Inverting

| | 1 komentar

Rangkaian Inverting

Rangkaian penguat inverting merupakan rangkaian elektronika yang berfungsi untuk memperkuat dan membalik polaritas sinyal masukan. Jadi, ada tanda minus pada rumus penguatannya. Penguatan inverting amplier adalah bias lebih kecil nilai besaran 1. Rangkaian inverting dideskripsikan seperti gambar dibawah ini :


Sebuah penguat pembalik menggunakan umpan balik negative untuk membalik dan menguatkan sebuah tegangan. Resistor RF melewatkan sebagian sinyal keluaran kembali ke masukan. Karena keluaran ak sefase sebesar 180 derajat, maka nilai keluaran tersebut secara efektif mengurangi besar masukan. Rumus dari rangkaian inverting dideskripsikan oleh persamaan di bawah ini :


Rangkaian Non-Inverting
Penguat non-inverting amplier merupakan kebalikan dari penguat inverting, dimana input dimasukkan pada input non-inverting sehingga polaritas output akan sama dengan polaritas input tapi memiliki penguatan yang tergantung dari besarnya hambatan feedback dan hambatan input. Rangkaian non-inverting dideskripsikan sepertigambar di bawah ini:


Penguat ini memiliki masukan yang dibuat melalui input non-inverting. Dengan demikian tegangan keluaran rangkaian ini akan satu fasa dengan tegangan inputnya. Rumus dari rangkaian non-inverting dideskripsikan oleh persamaan di bawah ini :


Penguat ini memiliki masukan yang dibuat melalui input non-inverting. Dengan demikian tegangan keluaran rangkaian ini akan satu fasa dengan tegangan inputnya. Rumus dari rangkaian non-inverting dideskripsikan oleh persamaan di bawah ini :

Referensi :
Read more...

Rangkaian Komparator

| | 0 komentar


Rangkaian Komparator adalah alat yang di gunakan untuk membandingkan ukuran panjang, komparator umumnya di buat dari sebuah teleskop atau mikroskop yang di gerakan naik turun pada sebuah skala. Komparator juga bisa di sebut sebagai alat yang di gunakan untuk membuat perbandingan antara dua sinar atau warna.

Selain itu, ada juga yang di sebut dengan rangkaian komparator tegangan. Komparator tegangan adalah sebuah rangkaian yang dapat dengan cermat membandingkan besar tegangan yang di hasilkan. Rangkaian ini biasanya menggunakan komparator Op-Amp sebagai piranti utama dalam sebuah rangkaian. Saat ini terdapat dua jenis komparator tegangan, yaitu komparator tegangan sederhana dan komparator tegangan dengan histerisis.

Rangkaian Komparator Tegangan Sederhana


Rangkaian komparator ini dapat kita rangkai menggunakan Vref yang di hubungkan ke V Supply, kemudian kedua resistor di gunakan sebagai pembagi tegangan, sehingga nilai tegangan yang di hasilkan dari komparator Op-Amp adalah semakin besar. Komparator Op-Amp akan membandingkan nilai tegangan pada kedua tegangan, apabila sebuah tegangan (-) lebih besar dari tegangan masukan (+) maka keluaran Op-Amp akan menjadi sama v Supply. Untuk Op-Amp yang sesuai dengan pemakaian pada rangkaian Op-Amp untuk komparator biasanya menggunakan op-amp dengan tipe LM339 yang banbyak di pasaran.


Rangkaian Komparator Tegangan Histerisis


Tujuan Rangkaian komparator ini adalah untuk meminimalkan efeknois pada tegangan masukan. Misalnya tegangan referinsanya di set 3,3 V, sedangkan rangkaian ini juga memiliki nois sebesar 0,1 V, maka tegangan inputnya menjadi tepat 3,3 V dan keluarannya juga akan berfuktuatif sesuai dari noisnya. Dengan menggunakan komparator histerisis, maka keluaranya tidak akan berlogika sebelum input melewati batas dan sebaliknya.

Dengan menggunakan komparator LM324 maka tegangan sinyal ramp yang di hasilkan oleh rangkaian generator ini akan di bandingkan dengan tegangan dari potensiometer. Tegangan potensiometer tersebut bervariasi antara 0 volt sampai 10 volt DC.

Pada saat rangkaian ramp berada di bawah tegangan potensiometer maka output dari komparator LM324 adalah 10 Volt sehingga terdapat arus yang mengalir pada R7. Apabila tegangan ramp lebih tinggi dari pada tegangan potensiometer maka output dari LM324 adalah 0 volt. Arus ini merupakan arus aktivasi optocoupler pada bagian triac.

Referensi :
Read more...

Pembagi Tegangan

| | 0 komentar


Rangkaian pembagi tegangan biasanya digunakan untuk membuat suatu tegangan referensi dari sumber tegangan yang lebih besar, titik tegangan referensi pada sensor, untuk memberikan bias pada rangkaian penguat atau untuk memberi bias pada komponen aktif. Rangkaian pembagi tegangan pada dasarnya dapat dibuat dengan 2 buah resistor, contoh rangkaian dasar pembagi tegangan dengan output VO dari tegangan sumber VI menggunakan resistor pembagi tegangan R1 dan R2 seperti pada gambar berikut.


Rangkaian Dasar Pembagi Tegangan





Dari rangkaian pembagi tegangan diatas dapat dirumuskan tegangan output VO. Arus (I) mengalir pada R1 dan R2 sehingga nilai tegangan sumber VI adalah penjumlahan VS dan VO  sehingga dapat dirumuskan sebagai berikut.


V= V2 + V0 = i . R1 + i .  R2

Nampak bahwa tegangan masukan terbagi menjadi dua bagian ( o S v , v ), masing-masing sebading dengan harga resistor yang dikenai tegangan tersebut. Sehingga besarnya VO  dapat dirumuskan sebagai berikut.

V= VI . (R/ R1+R2)

Rangkaian Pembagi Tegangan Terbebani



Gambar rangkaian pembagi tegangan diatas memperlihatkan suatu pembagi tegangan dengan beban terpasang pada terminal keluarannya, mengambil arus io dan penurunan tegangan sebesar vo. Kita akan mencoba menemukan hubungan antara io dan vo . Jika arus yang mengalir melalui R1 sebesar i seperti ditunjukkan dalam gambar, maka arus yang mengalir lewat R2 adalah sebesar i–io.

v= vi . (R/ R1+R2) - io . (R1 .R2 / R1+R2)
vo = vo/c – io . RP

Dimana vo/c adalah besarnya tegangan vo tanpa adanya beban, yaitu saat io=0, dan harga ini disebut sebagai tegangan keluaran saat rangkaian terbuka (open-circuit output voltage) sebesar.

vo/c = vi . (R/ R1+R2)

dengan

RP =  R1.R/ R1+R2

RP disebut sebagai “resistansi sumber”, dimana harganya sama dengan resistansi R1 dan R2 yang dihubungkan secara paralel. Harga vo/c atau RP tergantung pada sifat dari beban, sehingga efek vo akibat besarnya beban dapat dengan mudah dihitung dengan menggunakan penyederhanaan rangkaian seperti terlihat pada gambar berikut.



Dengan rangkaian yang disederhanakan seperti diatas, maka dapat dengan mudah ditentukan tengangan output vo. Dengan beban adala RL maka besarnya tegangan output vo adalah.

vo = vo/c . (R/ RL+RP)

Rangkaian pembagi tegangan (voltage divider) merupakan dasar untuk memahami rangkaian DC atau rangkaian elektronika yang lebih komplek.

Referensi :
Read more...

Kamis, 10 Desember 2015

Biodata

| | 0 komentar



Nama Lengkap                        : Resy Cahyanti
Nama Panggilan                      : Resy
Tempat, Tanggal Lahir            : Bojonegoro, 23 September 1995
Jenis Kelamin                          : Perempuan
Agama                                     : Islam
Kewarganegaraan                   : Indonesia
E-mail                                      : resycahyanti@gmail.com
Pekerjaan                                 : Mahasiswi
NIM                                        : 140534602952
Program Studi                         : S1 Pendidikan Teknik Elektro
Jurusan                                    : Teknik Elektro
Fakultas                                   : Teknik
Perguruan Tinggi                     : Universitas Negeri Malang

Riwayat Pendidikan
2001 – 2002                            TK Tunas Harapan 1
2002 – 2008                            SD Negeri 3 Banjarejo
2008 – 2011                            SMP Negeri 6 Bojonegoro
2011 – 2014                            SMA Negeri 3 Bojonegoro
2014 – Sekarang                     Universitas Negeri Malang

Read more...

Transistor Sebagai Penguat

| | 1 komentar

Transistor adalah alat semikonduktor yang dipakai sebagai penguat pemotong (switching), stabilisasi tegangan, modulasi sinyal atau fungsi lainnya. Transistor dapat berfungsi semacam kran listrik, dimana berdasarkan arus inutnya (BJT) atau tegangan inputnya (FET), memungkinkan pengaliran listrik yang sangat akurat dari sirkuit sumber listriknya.

Transistor sebagai penguat, sudah tidak lagi menjad hal yang tabu di dunia rangkaian elektronika bahwa transistor ddapat digunakan untuk berbagai macam keperluan, salah satunya yaitu berfungsi sebagai penguat. Penggunaan ini biasanya paling banyak digunakan di rangkaian-rangkaian elektronika yang sifatnya masih analog misalnya ketik digunakan sebagai penguat yaitu penguat arus, penguat tegangan, dan penguat daya. Fungsi komponen semikonduktor dapat dijumapai pada rangkaian Pree-Amp Head, Pree-Amp Mic, Mixer, Tone Control, Amplifier, dan lain-lain.

Pada umumnya. Transistor memiliki 3 terminal. Tegangan atau arus yang dipasang si satu terminalnya mengatur arus yang lenih besar yang melalui 2 terminal lainnya. Transistor adalah komponen yang sangat penting dalam dunia elektronik modern. Dalam rangkaian analog, transistor digunakan dalam amplifier (penguat). Rangkaian analog melingkupi pengeras suara, sumber listrik stabil, dan penguat sinyal radio. Dalam rangkaian-rangkaian digital, transistor digunakan sebagai saklar berkecepatan tinggi. Beberapa transistor juga dapat dirangkai sedemikian rupa sehingga berfungsi sebagai logic gate, memori, dan komponen-komponen lainnya.

Prinsip yang dipakai didalam transistor sebagai enguat yaitu arus kecil  pada basis dipakai untuk mengontrol arus yang lebih besar yang diberikan ke kolektor melalui transistor tersebut. Dari sinilah dapat dilihat bahwa fungsi dari transistor adalah hanya sebagai penguat ketika arus basis akan berubah. Perubahan arus kecil pada basis inilah yang dinamakan dengan perubahan besar pada arus yang mengalir dari kolektor ke emitter.


Kelebihan dari transistor ppenguat bukan hanya sekedar dapat meguatkan sinyal, namun tranistor juga dapat dipakai sebagai penguat arus, penguat daya dan penguat tegangan.

PENGUAT KELAS A


PENGUAT KELAS B


PENGUAT KELAS AB


Berdasarkan cara pemasangan ground dan pengambilan output transistor sebagai penguat dibagi mnjadi tiga bagian yaitu :
1.      Penguat Common Base (Grounded-Base)
Penguat Common Base adalah penguat ynag kaki basis transistor di groundkan, lalu input di masukkan ke emitor dan output diambil pada kaki kolektor. Penguat Common Base memunyai karakter sebagai penguat tegangan.

Sifat atau karakter pada Penguat Common Base :
1. Adanya isolasi input dan output tinggi sehingga Feedback lebih kecil
2. Cocok sebagai Pre-Amp karena mempunyai impedansi inut  tinggi yang dapat menguatkan sinyal kecil
3. Dapat dipakai sebagai penguat frekuensi tinggi (biasanya terdapat pada jalur UHF dan VHF)
4. Dapat dipakai sebagai buffer atau penyangga

2.      Penguat Common Emitor
Penguat Common Emitor adalah penguat yang kaki emitor transistor di groundkan, lalu input di masukkan ke basis dan output diambil pada kaki kolektor, serta mempunyai karakter sebagai penguat tegangan. Pada rangkaian ini, Emitor di groundkan/ditanahkan, input adalah basis, dan output adalah kolektor.


Sifat atau karakter pada Transistor sebagai Penguat Common Emitor :
1. Signal output berbeda phasa 180 derajat atau berbalik phasa sebesar 180 derajat terhadap sinyal input.
2. Sangat memungkinkan adanya osilasi akibat feedback atau umpan balik positif sehingga untuk mencegahnya sering dipasang feedback negatif
3. Sering dipakai sebagai penguat audio (frekuensi rendah) terutama pada sinyal audio
4. Mempunyai stabilitas penguatan rendah karena tergantung stabilitas suhu dan bias transistor

3.      Penguat Common Collector
Penguat Common Collector adalah penguat dimana kaki kolektor transistor di groundkan/ditanahkan, lalu input di masukkan ke basis dan output diambil pada kaki emitor dan penguat ini berkarakteristik sebagaipenguat arus. Rangkaian ini hamper sama dengan Common Emitor, tetapi outputnya diambil dari Emitor. Input dihubungkan ke Basis dan output dihubungkan ke Emitor. Rangkaian ini disebut juga dengan Emitor Follower (Pengikut Emitor) karena tegangan output hamper sama dengan tegangan input.


Sifat atau karakter pada Transistor sebagai Penguat Common Collector :
1.      Signal output dan signal input satu phasa (tidak terbalik seperti Commmon Emitor)
2.      Mempunyao penguatan tegangan sama dengan 1
3.      Mempunyao penguatan arus tinggi (sama dengan HFE transistor)
4.      Karena mempunyai impedansi input tinggi dan imedansi output rendah sehingga cocok digunakan sebagai buffer

Referensi :

Read more...

Hukum Kirchhoff

| | 0 komentar



Pengertian dan Bunyi Hukum Kirchhoff

Hukum Kirchhoff merupakan salah satu hukum dalam ilmu Elektronika yang berfungsi untuk menganalisis arus dan tegangan dalam rangkaian. Hukum Kirchoff pertama kali diperkenalkan oleh seorang ahli fisika Jerman yang bernama Gustav Robert Kirchhoff (1824-1887) pada tahun 1845. Hukum Kirchhoff terdiri dari 2 bagian yaitu Hukum Kirchhoff 1 dan Hukum Kirchhoft 2.

Pengertian dan Bunyi Hukum Kirchhoff 1
Hukum Kirchhoff 1 merupakan Hukum Kirchhoff yang berkaitan dengan dengan arah arus dalam menghadapi titik percabangan. Hukum Kirchhoff 1 ini sering disebut juga dengan Hukum Arus Kirchhoff atau Kirchhoff’s Current Law (KCL).
Bunyi Hukum Kirchhoff 1 adalah sebagai berikut :
“Arus Total yang masuk melalui suatu titik percabangan dalam suatu rangkaian listrik sama dengan arus total yang keluar dari titik percabangan tersebut.”
Untuk lebih jelas mengenai Bunyi Hukum Kicrhhoff 1, silakan lihat rumus dan rangkaian sederhana dibawah ini :



Berdasarkan Rangkaian diatas, dapat dirumuskan bahwa :
I1 + I2 + I3 = I4 + I5 + I6

Contoh Soal Hukum Kirchhoff 1



Dari rangkaian diatas, diketahui bahwa :
I1 = 5A
I2 = 1A
I3 = 2A
Berapakah I4 (arus yang mengalir pada AB) ?
Penyelesaian :
Dari gambar rangkaian yang diberikan diatas, belum diketahui apakah arus I4 adalah arus masuk atau keluar. Oleh karena itu, kita perlu membuat asumsi awal, misalnya kita mengasumsikan arus pada I4 adalah arus keluar.
Jadi arus yang masuk adalah :
I2 + I3 = 1 + 2 = 3A
Arus yang keluar adalah :
I1 + I4 = 5 + I4
3 = 5 + I4
I4 = 3 – 5
I4 = -2
Karena nilai yang didapatkan adalah nilai negatif, ini berbeda dengan asumsi kita sebelumnya, berarti arus I4 yang sebenarnya adalah arus masuk.

Pengertian dan Bunyi Hukum Kirchhoff 2

Hukum Kirchhoff 2 merupakan Hukum Kirchhoff yang digunakan untuk menganalisis  tegangan (beda potensial) komponen-komponen elektronika pada suatu rangkaian tertutup. Hukum Kirchhoff 2 ini juga dikenal dengan sebutan Hukum Tegangan Kirchhoff atau Kirchhoff’s Voltage Law (KVL).
Bunyi Hukum Kirchhoff 2 adalah sebagai berikut :
“Total Tegangan (beda potensial) pada suatu rangkaian tertutup adalah nol”
Untuk lebih jelas mengenai Bunyi Hukum Kirchhoff 2



Berdasarkan rangkaian diatas, dapat dirumuskan bahwa :
Vab + Vbc + Vcd + Vda = 0

Contoh Soal Hukum Kirchhoff 2



Perhatikan rangkaian diatas, nilai-nilai Resistor yang terdapat di rangkaian adalah sebagai berikut :
R1 = 10Ω
R2 = 20Ω
R3 = 40Ω
V1 = 10V
V2 = 20V
Berakah arus yang melewati resistor R3 ?
Penyelesaian :
Di dalam rangkaian tersebut, terdapat 3 percabangan, 2 titik, dan 2 loop bebas (independent).
Gunakan Hukum Kirchhoff I (Hukum Arus Kirchhoff) untuk persamaan pada titik A dan titik B
Titik A :    I1 + I2 = I3
Titik B :    I3 = I1 + I2
Gunakan Hukum Kirchhoff II (Hukum Tegangan Kirchhoff) untuk Loop 1, Loop 2 dan Loop 3.
Loop 1  :    10 = R1 x I1 + R3 x I3 = 10I1 + 40I3
Loop 2  :    20 = R2 x I2 + R3 x I3 = 20I2 + 40I3
Loop 3  :    10 – 20 = 10I1 – 20I2
Seperti yang dikatakan sebelumnya bahwa I3 adalah hasil dari penjumlahan I1 dan I2, maka persamaannya dapat kita buat seperti dibawah ini :
Persamaan 1 :    10 = 10I1 + 40(I1 + I2)  =  50I1 + 40I2
Persamaan 2 :    20 = 20I2 + 40(I1 + I2)  =  40I1 + 60I2
Jadi saat ini kita memiliki 2 persamaan, dari persamaan tersebut kita mendapatkan nilai I1 dan I2 sebagai berikut :
I1 = -0.143 Ampere
I2 = +0.429 Ampere
Seperti yang diketahui bahwa I3 = I1 + I2
Maka arus listrik yang mengalir pada R3 adalah -0.143 + 0.429 = 0.286 Ampere
Sedangkan Tegangan yang melewati R3 adalah 0.286 x 40 = 11.44 Volt
Tanda Negatif (-) pada arus I1 menandakan arah alir arus listrik yang diasumsikan dalam rangkaian diatas adalah salah. Jadi arah alir arus listrik seharusnya menuju ke V1, sehingga V2 (20V) melakukan pengisian arus (charging) terhadap V1.

Referensi :
Read more...

Popular Posts

Blogger templates

Blogroll

About

Diberdayakan oleh Blogger.

Pages

Kalender

Waktu

Weekly post

 

Designed by: Compartidísimo
Images by: DeliciousScraps©